Doomsday

DoomsdayKemarin malam saya habis nonton film ini… mmm.. pas liat trailer nya sich seru banget… tapi setelah menonton dari awal ampe habis… koq saya rasa film ini terlalu mengada2 dan membawa beberapa era yah…. ada era modern… era kerajaan… dan yang terakhir adalah era punkers….. padahal di cerita nya dikasih tau bahwa itu tahun 2035…… inti nya film ini tidak terlalu layak buat di tonton deh…

Tahun 2008, Skotlandia dilanda virus mematikan yang bernama Reaper. Vaksin antivirus tidak berhasil ditemukan sementara jumlah korban yang berjatuhan makin banyak. Pemerintah Inggris tidak punya pilihan lain selain mengkarantina seluruh wilayah yang terinfeksi dengan harapan bisa menghentikan penyebaran virus.

25 tahun setelah wabah itu, obat penyembuh virus Reaper belum juga ditemukan dan selama itu pula Skotlandia menjadi tanah tak bertuan, terasing dari dunia luar. Namun ternyata usaha untuk menghentikan penyebaran virus Reaper ini gagal karena kasus serupa kemudian ditemukan di London.

Department of Domestic Security (DDS) yang dikepalai oleh Chief Bill Nelson (Bob Hoskins) terpaksa harus mengirim satu tim ke daerah karantina karena dari hasil foto satelit terlihat ada sekelompok orang yang berhasil selamat dari wabah. Tim itu bertugas mencari Doctor Kane (Malcolm McDowell), ilmuwan yang diduga berhasil menemukan obat anti virus Reaper.

Eden Sinclair (Rhona Mitra) ditugaskan memimpin tim itu. Eden adalah salah satu dari penduduk Skotlandia yang berhasil dievakuasi saat wabah menyerang. Eden terpaksa harus meninggalkan ibunya di daerah wabah saat evakuasi dilakukan.

Sesampai di daerah wabah, Eden mendapati bahwa daerah itu dihuni dua kelompok yang berhasil selamat dari wabah 25 tahun sebelumnya. Salah satu kelompok itu dipimpin oleh Sol (Craig Conway) yang langsung menangkap tim Eden dan bahkan membunuh beberapa anak buah Eden.

Film fiksi ilmiah produksi Inggris ini didistribusikan oleh Universal Pictures Maret ini. Kabarnya sutradara Neil Marshall menghabiskan dana sekitar 17 juta Poundsterling dalam memproduksi film ini. Namun keputusan untuk tidak membuat screening untuk film ini justru malah membuat film ini berkesan menghindar dari kritikus film. Dan ternyata keputusan itu mungkin ada benarnya karena secara garis besar, film ini tak menawarkan sesuatu yang baru.

Film bertema ‘kehancuran dunia’ memang bukanlah hal yang baru. Sebut saja RESIDENT EVIL dan 28 DAYS LATER juga mengusung tema yang kurang lebih sama. Atau kalau mau sedikit lebih melebar, MAD MAX dan ARMAGEDDON juga mengusung topik heroik yang sama pula. Akibatnya memang bisa diduga. Penonton dapat menebak alur cerita bahkan ketika film baru saja dimulai.

Seperti kebanyakan film laga, yang satu ini pun kurang memperhatikan kekuatan penokohan. Artinya karakter yang ada terasa begitu dangkal dan tak punya latar belakang yang cukup kuat untuk menjadikannya terlihat nyata seperti karakter di alam nyata. Akhirnya, yang jadi tumpuan harapan hanyalah serangkaian aksi laga yang dirangkai dengan sedikit cerita agar membuatnya jadi lebih bisa dinikmati.

Intinya, untuk bisa menikmati film ini Anda harus melepas dulu semua ‘prasangka’ dan membiarkan film ini mengalir begitu saja. Di akhir cerita mungkin Anda tak mendapatkan apa-apa, tapi setidaknya untuk sebuah film laga, yang satu ini tak terlalu buruk untuk ditonton.

Leave a Reply

%d bloggers like this: