The Curious Case of Benjamin Button

The Curuous Case of Benjamin ButtonKemarin malam saya nonton film The Curuous Case of Benjamin Button di Blitzmegaplex, Grand Indonesia… tapi sayang sekali.. saya dapat auditorium 9, yg saya kepengen adalah nonton yg di auditorium 1 nya yg katanya sich THX Certified… film ini berdurasi 167menit… waw… 2 jam lebih… tapi gpp…. saya cukup puas mengikuti cerita dalam film ini kemarin malam…. saya nonton dari jam 22.00 ampe jam 01.00 pagi…. ok tanpa berpanjang lebar, kita ikuti resensi dari film The Curuous Case of Benjamin Button.

Proses penuaan kadang menjadi masalah bagi beberapa orang. Ada yang tak bisa menerima proses alami ini dan berusaha menghentikan atau memperlambatnya. Namun bagaimana seandainya ada yang bisa membalik proses ini? Apakah semua masalah lantas selesai?

Benjamin Button (Brad Pitt) terlahir di tahun 1860. Kelahiran bocah ini tergolong kasus yang sangat aneh. Beberapa jam setelah kelahirannya, Benjamin berubah menjadi pria berusia tujuh puluh tahun. Kejadian aneh ini berusaha ditutupi oleh orang tua Benjamin yang merasa malu dengan kejadian aneh ini.

Yang lebih aneh lagi adalah kenyataan bahwa Benjamin ternyata mengalami pembalikan proses penuaan. Dari usia tujuh puluh tahun, perlahan Benjamin tumbuh menjadi lebih muda. Proses pembalikan usia ini ternyata malah membuat kehidupan Benjamin menjadi lebih rumit. Keadaan jadi semakin sulit setelah Benjamin menikah dan memiliki putra. Bukannya tumbuh menjadi makin tua, Benjamin malah menjadi semakin muda dan akhirnya kembali menjadi anak-anak.

Film hasil besutan sutradara David Fincher ini diadaptasi dari sebuah cerita pendek karya F. Scott Fitzgerald dengan judul yang sama. Meski berkisah tentang sesuatu yang tak mungkin terjadi, sebenarnya film ini bicara tentang hakikat kehidupan dan apa yang dialami manusia sedari ia lahir hingga berakhir di liang kubur. Dan lebih dari itu semua, film ini bicara tentang cinta.

Untuk menuangkan cerita pendek karya F. Scott Fitzgerald ini sang sutradara memerlukan durasi sepanjang 166 menit. Ini tak mengherankan karena sang sutradara agaknya tak mau ‘terburu-buru’ dalam menuturkan kisah ini. Efek yang ingin dicapai memang bukan sekedar menceritakan kasus aneh yang dialami Benjamin Button namun lebih pada proses perubahan fisik dan mental yang dialami Benjamin agar penonton bisa ikut merenungi pergulatan batin yang dialami sang tokoh utama.

Memang film ini bukan termasuk film ‘hiburan’ dalam artian Anda bisa menikmatinya tanpa harus menggunakan otak sama sekali. Malahan dengan durasi hampir dua setengah jam, film ini cenderung jadi sebuah aktivitas yang cukup melelahkan. Untungnya film ini tak jadi membosankan karena baik suguhan visual effect hingga akting para pemainnya mampu mengusir kebosanan dan membuat penonton tetap bertahan hingga akhir film. Dan dengan pola penuturan kisah yang baik dan penyutradaraan yang brilian, jelas film ini jadi sebuah tontonan yang tak boleh dilewatkan.

One Response

Leave a Reply

%d bloggers like this: