Doa Yang Mengancam

Doa Yang MengancamUsai menyutradarai film yang sukses besar, AYAT-AYAT CINTA, Hanung Bramantyo pernah berujar untuk berhenti dari dunia film. Karena dalam pembuatan film AYAT-AYAT CINTA, Hanung mengaku telah mengerahkan segala kemampuannya. Namun beberapa bulan kemudian, Hanung menjilat ludahnya sendiri dan merilis film baru berjudul DOA YANG MENGANCAM. Film ini dibintangi oleh pemain Extravaganza, Aming. Karena dibintangi oleh pelawak, film ini pun bergenre komedi, tapi dengan sentuhan religi. Dalam film ini, Aming berperan sebagai Madrim, kuli angkut yang merasa nasibnya paling malang di dunia. Kemiskinan yang menjeratnya, membuat sang istri Leha (Titi Kamal) pergi meninggalkannya. Penderitaannya belum berakhir karena Madrim diusir dari kontrakan karena tak mampu membayar. Seorang kawannya, Kadir, penjaga mushola menyarankan agar Madrim rajin sholat. Meski telah menuruti saran Kadir, nasib Madrim tak kunjung berubah. Diilhami oleh sebuah peristiwa perampokan, Madrim berdoa dengan mengancam Tuhan jika dalam tiga hari doanya tak terkabul, dia akan berpaling pada setan.

Pada hari ketiga, Madrim jatuh pingsan setelah disambar petir. Ia pun ditolong penduduk desa. Setelah sadar, Madrim tiba-tiba dapat mengetahui keberadaan seseorang hanya dengan melihat fotonya. Kemampuan baru Madrim dimanfaatkan polisi untuk melacak keberadaan buronan mereka. Atas petunjuk Madrim, puluhan buronan tertangkap. Dalam waktu singkat, Madrim dilimpahi kekayaan. Saat ‘kemampuan melihat’ yang dimilikinya mulai merampas kebahagiaan hidupnya, Madrim lagi-lagi mengancam Tuhan agar mencabut ‘kelebihan’ yang diberikan padanya. Kadir menduga bahwa kemampuan itu adalah pemberian setan, bukan Tuhan. Madrim pun menggugat setan.

Madrim lagi-lagi koma. Kemampuannya tak hilang, justru bertambah. Kini, Madrim juga bisa melihat gambaran masa depan. Kekayaan Madrim meningkat pesat dalam waktu singkat. Kekayaan melimpah tak juga membuat Madrim bahagia. Kebahagiaan yang didambanya tak kunjung diraih. Apa yang sebenarnya bisa membuat Madrim bahagia?

Film berdurasi 115 menit yang diangkat dari cerpen karangan Jujur Prananto dan termasuk dalam Buku Kumpulan Cerpen Terbaik Kompas 2002 ini berisi kisah satir dengan sentuhan komedi dan religi.

2 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: