May

Tragedi kerusuhan 13 Mei 1998 di Jakarta yang menyisakan kesedihan dan lara di hati orang yang mengalaminya mengilhami sejumlah insan film yang mengangkatnya ke layar lebar dalam film MAY. Film produksi Flix Pictures yang sebelumnya menggarap DEALOVA (2005) ini berkisah tentang cinta dengan latar belakang kesaksian atas peristiwa kelam Mei 1998. Dengan alur maju mundur, sang sutradara Viva Westi menggambarkan kisah cinta May dan Antares. May (Jenny Chang) adalah putri Cik Bing (Tutie Kirana) penjual mi ayam di kawasan Glodok, Jakarta Utara. Sedangkan Antares (Yama Carlos) adalah laki-laki pribumi berprofesi sutradara dokumenter. Perbedaan warna kulit tak menghalangi kisah cinta mereka.

Nasib sial dialami May tepat di hari berdarah itu. Pada hari naas itu, May pergi untuk mengikuti casting, seharusnya Antares mengantarnya. Antares yang pernah berjanji akan selalu ada untuk May, tak bisa dihubungi saat itu. Antares sedang sibuk syuting film dokumenter, adegan wawancara aktivis. Dia tidak bisa menjemput meski May sudah sangat ketakutan dan menangis di tengah kerusuhan yang semakin mengerikan. May hanya menangis saat ditemukan oleh seorang jurnalis asing, Raymond (Andre Peter). May bertelanjang dada dan sedang meringkuk di sebuah sudut gelap bangunan tua. Ia menurut saja ketika dibawa Raymond ke Malaysia dan menjadi penyanyi kafe di sana.

Nasib sang bunda pun tak kalah mengenaskan. Cik Bing terpaksa melepas rumah mereka demi selembar tiket menuju Malaysia. Gandang (Lukman Sardi) hanya seorang buruh cuci di hotel. Dialah yang menjual tiket ke Malaysia kepada Cik Bing, melalui temannya. Sepuluh tahun berlalu, mereka menjalani hidup masing-masing. Antares telah menjadi salah satu pengikut Harriandja yang menjadi tim sukses para politikus, sampai ke Malaysia. Gandang telah menjadi pengusaha laundry yang sukses di Yogyakarta. Namun rasa bersalah membawa Gandang mencari Cik Bing, membawa Cik Bing kembali ke Indonesia dan mengembalikan rumahnya, meskipun tanpa May.

Gandang bertemu dengan Cik Bing di kedai kopi tiam di Malaka. Sedangkan Antares bertemu dengan May di sebuah pub di Kuala Lumpur. Sementara itu, Raymond juga muncul bersama Tristan, bocah berumur sembilan tahun yang dulu lahir dari rahim May. Alur cerita film yang ditulis oleh Dirmawan Hatta ini yang tidak seperti umumnya film Indonesia, mengajak penonton melompat-lompat antara masa kini dan sepuluh tahun lalu, membuat film berdurasi 105 menit ini “penuh misteri”. Suasana kerusuhan digambarkan dengan sangat baik, tak terlalu gamblang sehingga hasilnya tak kontroversial. Fokusnya pun bukan kekerasan atau penghancuran, namun efek psikologis yang dialami korban kerusuhan. Meski ada beberapa hal yang mengganjal, seperti larinya Cik Bing ke Malaysia, padahal umumnya etnis Tionghoa saat itu mengungsi ke Singapura, namun film yang mengambil syuting di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Kuala Lumpur, Malaka, dan genting Highland ini sangat menyentuh. Dan meski sang penulis dan sutradara bersikukuh film ini murni fiksi, tapi tak menutup kemungkinan ada banyak May dan Cik Bing di luar sana. http://may-themovie.com/

Leave a Reply

%d bloggers like this: