Otomatis Romantis

Setelah beberapa tahun terakhir terutama tahun 2007 dunia perfilman Indonesia menjadi ajang bertarungnya hantu-hantu, kini di tahun 2008 tema cinta kembali bersemi. Tak ketinggalan Insan Sinema Indonesia (ISI) Production turut meramaikan dengan film terbaru mereka, OTOMATIS ROMANTIS. Film ini juga menjadi ajang reuni bagi Tora Sudiro dan Marsha Timothy yang pernah dipasangkan dalam film laga EKSPEDISI MAHADEWA (2005). Meski bergenre komedi, yang terlihat pula dari posternya, film ini dibuka dengan adegan yang jauh dari kesan lucu. Film yang naskahnya ditulis oleh Monty Tiwa ini dimulai dengan suasana bete yang menghinggapi Nadia (Marsha Timothy) pada hari ulang tahunnya yang ke-29 lantaran mendapat tekanan agar cepat menikah oleh orang tuanya, Joko (Tarsan) dan Ibu Joko (Chintami Atmanegara) yang sangat kental dengan budaya Jawa. Tentu saja hal itu membuat Nadia tak nyaman, apalagi kakaknya, Nabila (Wulan Guritno) sudah menikah dan adiknya, Nana (Poppy Sovia) sudah punya pacar. Padahal Nadia, bisa dibilang punya segalanya, cantik dan sukses sebagai jurnalis di sebuah majalah wanita. Sayang Nadia selalu merasa dirinya tidak mampu menemukan pasangan yang ideal. Padahal banyak sekali pria mendekatinya. Hal ini sangat ironis dengan kehidupannya, mengingat Nadia terkenal sebagai pakar dalam urusan percintaan dan memberikan tips jitu dalam mencari pasangan ideal di majalah tempatnya bekerja. Rasa kesal Nadia tertumpah di kantor, hampir semua orang kena getahnya. Tak ketinggalan sang sekretaris, yang diperankan oleh Mpok Atiek yang kocak. Kelucuan pun mulai mengalir.

Hati Nadia sedikit terusik dengan kehadiran Bambang (Tora Sudiro), pria desa yang lugu, bersahaja, dan selalu tulus dalam melakukan segala hal. Bambang adalah karyawan administrasi di kantornya yang berasal dari desa terpencil di Yogyakarta. Awalnya Bambang datang ke kota dengan harapan dapat menjadi seorang penulis. Namun akhirnya dia hanya menjadi pegawai administrasi rendahan. Ketulusan Bambang mampu menyentuh hati Nadia. Sayangnya Nadia yang angkuh dan tertutup itu selalu menganggap dirinya atasan yang harus selalu dihormati merasa gengsi mengungkapkan isi hatinya. Nabila mencium gelagat Nadia dan mendukung sepenuhnya agar Nadia mengungkapkan perasaannya pada Bambang. Meski demikian, terbersit sedikit kekhawatiran dalam diri Nadia bahwa Bambang adalah tipe pria yang sama dengan Dave (Tukul Arwana), suami Nabila, yang dulunya juga pria lugu dan ndeso tetapi berkat dukungan Nabila, akhirnya kaya mendadak dan kini kelakuannya berubah total menjadi pria tengil dan genit. Sayang saat Nadia telah menemukan keberanian dirinya untuk mengungkapkan isi hati pada Bambang, tiba-tiba Bambang datang menghadap untuk pinjam uang. Bambang bermaksud mengawini tetangganya yang dihamili oleh Tresno (Dwi Sasono), kakaknya. Jelas rencana itu membuat Nadia sangat terkejut.

Lantas, bagaimana nasib cinta Nadia. Akankah ini suatu hal yang mengakhiri rasa cintanya pada Bambang? Akankah kali ini cintanya gagal lagi? Film ini merupakan debut sutradara Guntur Soeharjanto di layar lebar. Saat menontonnya, mau tak mau ingatan akan melayang ke FTV UJANG PANTRI. Bagaimanapun juga sutradaranya sama sih. Meski demikian, film ini tetap menarik untuk ditonton. Banyak adegan lucu yang sayang untuk dilewatkan, juga dialog dan sentilan-sentilan yang cukup mengena. Kehadiran dua pelawak, Tarsan dan Tukul juga mampu membangkitkan tawa dengan guyonan ala Srimulat mereka. Budaya Jawa pun kental terasa. Seperti mitos-mitos Jawa yang berkaitan dengan perjodohan dan rumah tangga. Sayangnya Tora sebagai tokoh utama tak bisa melepaskan “label” Ekstravaganza saat memerankan Bambang. Begitu juga dengan alur cerita yang terasa dipaksakan agar nyambung. Dengan alur cerita yang sangat sederhana mengalir, ada baiknya saat menonton film ini Anda tak berpikir, agar segala kelucuan bisa tercurah menjadi tawa lepas.

Leave a Reply

%d bloggers like this: